BERANDA

Cari Blog Ini

Kopaska Di Dadaku

Kopaska Di Dadaku

Senin, 19 September 2011

Stasiun Tanjung Priuk






Stasiun kereta api Tanjung Priuk pernah menjadi bangunan megah dan mewah yang pernah ada di utara Batavia pada jaman Hindia Belanda. Letaknya yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Priuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan yang penting sekaligus sebagai tempat transit, keluar masuknya orang Eropa yang datang ke tanah Jawa. Tidak hanya memiliki delapan peron, stasiun ini juga dilengkapi dengan aula yang luas dan kamar penginapan. Gerbong restorannya pun dilayani dengan petugas berseragam dan bersarung tangan putih yang menyajikan makanan di atas piring keramik dan gelas kristal. Ditemukan juga bunker di bawah stasiun bagian utara yang masih belum diketahui fungsinya pada jaman tersebut. Bangunan simetris dua lantai bercat putih karya arsitek Ir. C.W. Koch didesain dengan pengaruh kubisme. Didominasi bentuk geometris persegi empat dan garis garis vertikal dan horisontal pada semua bagian bangunan. Kolom struktur batu bata, jendela berukuran besar dan hiasan kaca patri seperti layaknya desain bangunan kolonial Belanda yang banyak ditemukan di bagian kota lama Jakarta. Tenggelam di balik hiruk pikuk manusia, cuaca panas dan bisingnya terminal bis Tanjung Priuk yang tepat berada di depan stasiun, berada di dalam bangunan ini jutstru memberi kesan yang sangat berbeda. Pencahayaan alami yang masuk melalui deretan jendela kaca, langit-langit yang tinggi, batu keramik yang menutupi permukaan lantai dan sebagian dinding serta bukaan-bukaan ventilasi menciptakan suasana yang tenang dan sejuk. Sebagai stasiun pertama yang menggunakan kereta bertenaga listrik pada masa Hindia Belanda, kini stasiun Tanjung Priuk hanya melayani tiga keberangkatan. Pukul 15.20 dengan tujuan Cirebon, Tegal, Pekalongan, Waleri, Semarang, Cepu, Bojonegoro, Lamongan dan Surabaya. Pukul 08.30 dan 16.20 dengan tujuan Pasar Senen, Jatinegara, Klender, Cakung, Bekasi, Cikampek dan Purwakarta. Aneh sepertinya, stasiun yang berukuran cukup besar hanya memiliki satu keberangkatan di pagi hari dan dua di sore hari. Tapi entahlah, saya tidak begitu paham tentang sistem perkeretaapian. Saat saya di sana, stasiun terlihat kosong. Hanya ada seseorang sedang membersihkan rangkaian kereta yang menanti pada sebuah rel. Menaiki gerbong kereta yang baru saja dibersihkan mengingatkan saya terakhir kali bepergian dengan kereta dari stasiun Senen, Jakarta menuju stasiun Tugu, Yogyakarta. Interior gerbong dan kursi tetap sama seperti lima belas tahun yang lalu. Di sisi lain gerbong kereta terlihat pekerja anak anak menjual makanan dan minuman yang sedang bermain sambil menunggu datangnya penumpang. Di sudut lain peron tampak dua anak kecil bermain kartu bergambar. Hmmm… mudah mudahan mereka bisa menikmati sistem kereta api yang lebih maju, seperti mimpi akan monorel, ketika mereka dewasa nanti

Sabtu, 10 September 2011

Kelelahan,10 Prajurit Marinir Amerika Dievakuasi

BANYUWANGI--Sepuluh prajurit Marinir Amerika yang disebut United States Marine Corps (USMC) terpaksa harus dievakuasi akibat kelelahan saat menjalani latihan bertahan hidup di dalam hutan Selogiri, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa. Staf Dinas Penerangan (Dispen) Korps Marinir Lettu Mar Mardiono melaporkan sejak Senin (19/10) hingga Selasa (20/10), tercatat 10 prajurit Marinir Amerika yang tumbang dan tidak sanggup melanjutkan latihan survival akibat kelelahan dan tidak tahan dengan cuaca tropis.

"Misalnya, Ranus (26) yang berpangkat BFC dan kelahiran California, merupakan salah satu dari 10 Prajurit Marinir Amerika yang terpaksa harus dievakuasi tim medis dari Korps Marinir Indonesia," katanya, didampingi rekannya Serda Mar Kuwadi.

Latihan Survival itu diikuti 362 Marinir Amerika yang dipandu 16 pelatih, tiga interpreter (penerjemah), empat personel komunikasi, dan lima Prajurit Regu Pandu Tempur (Rupanpur) Korps Marinir TNI AL. Kegiatan survival ini merupakan bagian dari rangkaian Latihan bersama (latma) Marinir Amerika dan Indonesia yang bertajuk "Interoperability Field Training Exercise (IIP?FTX) 2009" di Situbondo dan Banyuwangi, 17-24 Oktober 2009.

Latma yang dikomandani Kolonel Marinir Nur Alamsyah itu dilakukan di empat tempat, yaitu di Pantai Banongan, Puslatpur Marinir Karangtekok, Kecamatan Banyu Putih, Situbondo, Pasewaran, dan hutan Selogiri Banyuwangi. Di Selogiri, 362 Prajurit Marinir Amerika yang menjelajahi hutan liar itu dibagi menjadi dua gelombang yang setiap gelombang dibagi menjadi lima tim dengan didampingi pelatih dan dokter dari Korps Marinir TNI AL.

Satu per satu tim diberangkatkan masuk ke dalam hutan, tetapi panitia sudah menyiapkan rintangngan dan jebakan ranjau yang dipasang sedemikian rupa sebagai tantangan, sehingga sesekali terdengar suara ranjau yang meledak dari balik rerimbunan hutan. Ledakan itu membuat para prajurit kalang kabut, namun mereka tetap saling berkoordinasi dalam satu komando dengan komandan regunya.

Sebelum menjalani perang di dalam hutan, para prajurit Marinir Amerika itu dibekali beberapa pengetahuan dan wawasan terkait cara bertahan hidup di dalam hutan. "Mereka juga kami ajari bagaimana cara makan tumbuh-tumbuhan di hutan, menghadapi hewan di antaranya ular dan beberapa jenis binatang buas," kata Kepala Tim (Katim) Survival Kapten Marinir M Machfud.

Pelatih lainnya, Pelda Marinir Mujiono mempraktikkan bagaimana cara yang benar dalam menjinakkan ular. Beberapa prajurit Marinir Amerika juga ada yang mencoba makan beberapa jenis tumbuhan liar. Dengan bekal logistik yang terbatas, seorang tentara memang dituntut bertahan hidup. Setiap gelombang Latihan Survival itu memakan waktu empat hari empat malam.

"Mereka menghadapi tantangan berat, meski mereka membawa perlengkapan tempur seperti senapan laras panjang M.16 A4, GPMG, senjata canggih lainnya yang dilengkapi dengan infra merah, peralatan komunikasi yang cukup canggih, dan alat digital petunjuk posisi di bumi (Global Positioning System/GPS)," katanya. ant/kpo

http://republika.co.id/berita/83686/Kelelahan_10_Prajurit_Marinir_Amerika_Dievakuasi